Rabu, 13 Agustus 2014


Ini di raja ampat,dan ini aset negara kita!Seharusnya kita bisa memanfaatkannya !!!

SEJARAH PERIKANAN INDONESIA

 

Sejak UNCLOS 1982 ditetapkan dan diikuti lahirnya Undang-Undang No. 5/1985 tentang Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI), secara geografis 75% wilayah negeri ini merupakan laut. Dari aspek geografi inilah para ahli sejarah ekonomi memulai kajian nusantara , dimana peran laut oleh Houben dikatakan “uncontested”. Peran perikanan sebagai salah satu industri di pesisir nampak masih sangat kecil (10% dari PDB Pertanian) dan berdasarkan data yang dilaporkan van der Eng sektor ini masih berada di bawah sektor lainnya dalam kurun waktu lebih dari satu abat terakhir. Sektor perikanan dan kelautan mulai mendapat perhatian lebih ketika Presiden Abdurrahman Wahid menetapkan lahirnya Departemen Ekplorasi Laut dengan Keppres 136/1999, atau kini Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP).
Perikanan laut diperkirakan menyumbang 78% dari total produksi perikanan tahun 2002 akan menjadi tumpuan sektor ini. Kemiskinan yang berhadapan dengan kerapuhan lingkungan hidup, konflik dan dualisme ekonomi, serta tumpang tindihnya dan tidak berdayanya perangkat kebijakan, merupakan tantangan yang pada gilirannya akan berimbas pada keberkanjutan pertumbuhan sektor ini.

Perikanan Indonesia pada 1400an-1600an: “Age of Commerce”
Abad ke-7 dan ke-8 perdagangan telah menjadi ciri dari beberapa wilayah seperti di Selat Malaka dan Laut Jawa. Perkembangan ekonomi dan formasi negara bahkan sangat terkait dengan aktivitas ini . Hal tersebut juga tergambar dari hikayat yang berkembang yang menunjukkan hubungan dialektis antara penguasa dan pedagang.
Periode 1450-1680 menjadi periode emas ekonomi pesisir, atau Reid menyebut “age of commerce” . Puncak keemasan ekonomi nusantara merupakan hasil dari spesialisasi ekonomi yang tinggi (misalnya produk pangan untuk pasar domestik dan beberapa hasil pertanian, hutan dan hasil laut, serta emas untuk pasar global), jaringan perdagangan yang luas, merebaknya monetisasi dan urbanisasi.
Bagaimana industri perikanan periode ini? Perdagangan mutiara dan kerang-kerangan cukup penting, namun keterangan Zuhdi tentang perikanan Cilacap yang hanya menggunakan alat tangkap sederhana dan nelayan mengolah hasilnya untuk dibarter dengan wilayah pedalaman menjadi panduan kondisi lain perikanan di era ini.


Perikanan Indonesia pada 1800an-Pertengahan 1900an: Pasang – Surut Perikanan
Tarik-menarik politik pesisir dan pedalaman menandai maju-mundurnya peran ekonomi wilayah ini. Di Jawa misalnya, Houben membagi menjadi tiga periode yaitu :
1) 1600-1755 dimana terjadi perubahan orientasi politik dari pesisir ke pedalaman atau dari perdagangan ke pertanian yang ditandai naik-turunnya kekuasaan Mataram;
2) periode 1755-1830 Jawa terpecah belah dan berakhir dengan perang. Belanda memanfaatkan momen ini melalui serial kerjasama pengembangan pertanian tanaman ekspor dengan para penguasa Jawa, sehingga tahun 1757 Belanda telah menguasai daerah pedalaman.
3) 1830-1870 merupakan periode menguatnya kolonialisme. Periode ini ditandai dengan diberlakukannya tanam paksa pada tahun 1830.
Untuk mendukung ekspor pemerintah membangun pelabuhan, namun pelabuhan yang tumbuh berkarakter menghisap potensi alam dan bumiputera. Keuntungan tanam paksa tidak diterima rakyat, tetapi oleh orang Eropa, pedagang China, importir dan eksportir selain pemerintah Belanda. Tanam paksa juga diperkirakan mendorong penurunan tampilan industri perkapalan.
Sejak akhir 1800an perikanan telah berorientasi pada pasar yang ditandai dengan pertumbuhan spektakuler usaha pengolahan dan pemasaran ikan. Bahkan, pada awal abad ke-20 Kota Bagan Si Api Api di mulut Sungai Rokan telah menjadi salah satu pelabuhan perikanan terpenting di dunia dengan kegiatan utama ekspor perikanan. Jawa dengan populasi 1/4 dari total penduduk Asia Tenggara pada tahun 1850 telah menjadi pasar terpenting produk perikanan khususnya ikan kering (asin) dan terasi. Merujuk pada data van der Eng, kontribusi perikanan terhadap total PDB pada tahun 1880 dan 1890 mencapai di atas 2% atau tertinggi yang pernah dicapai perikanan dari seluruh periode antara 1880-2002.

Pasang-surut perikanan tidak terlepas dari kebijakan pemerintah, permasalahan ketersediaan sumberdaya, ekologi, ekonomi dan sosial. Kebijakan monopoli garam oleh pemerintah dengan meningkatkan biaya sewa dari f6.000 pada tahun 1904 menjadi f32,000 di tahun 1910 menghasilkan stagnasi dan penurunan peran industri perikanan yang ditunjukkan oleh penurunan ekspor dari 25.900 ton ikan kering di tahun 1904 menjadi 20.000 ton di tahun 1910. Tahun 1912 perikanan Bagan Si Api-Api telah mengalami kemunduran berarti. Hal yang serupa dan permasalahan pajak dan kredit juga terjadi di Jawa dan Madura. Permasalahan ekologi seperti ekstraksi bakau dan pendangkalan perairan, serta menurunnya sumberdaya ikan muncul dan mendorong perikanan bergerak lebih jauh dari pantai.
Pertumbuhan industri perikanan periode 1870an sampai 1930an oleh Butcher disebut sebagai menangkap ikan lebih banyak dengan teknologi yang sama. Periode ini diikuti oleh perubahan teknologi dan perluasan daerah penangkapan sebagai akibat modernisasi perikanan dan semakin langkanya ikan di daerah pinggir (1890an-1930an). Peran nelayan Jepang dalam hal ini patut dicatat karena mereka masuk ke Indonesia dengan profesi salah satunya sebagai nelayan. Butcher  menilai nelayan-nelayan ini datang dengan dukungan subsidi pemerintahan Meiji yang sedang giat menggalakan industrialisasi. Teknologi perikanan yang lebih maju membuat nelayan Jepang mendapat keuntungan yang lebih besar dari exploitasi sumberdaya ikan.

Perikanan Indonesia pada Awal Kemerdekaan dan Akhir Orde Lama : Pertarungan Politik
Kebijakan ekonomi era ini banyak yang tidak dilaksanakan karena berbagai pergolakan politik. Strategi pemulihan terus dilaksanakan hingga tahun 1957, namun penampilan memburuk pada waktu Ekonomi Terpimpin yang akhinya menghasilkan kemunduran secara struktural ekonomi Indonesia antara tahun 1940 dan 1965. Di pertengahan 1960an ekonomi sangat merosot dengan inflasi mendekati 500%.
Diantara wacana politik ekonomi perikanan dan kelautan adalah 1) perjuangan Konsepsi Archipelago sesuai deklarasi Desember 1957, 2) Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) No. 5/1960, dan 3) perikanan sebagai salah satu “mainstream” pembangunan nasional.
Konsepsi archipelago diperkuat dengan UU No. 4 prp. 1960 tentang Perairan Indonesia, yang diikuti Keppres 103/1963 untuk memberikan pengertian lebih luas tentang lingkungan maritim. UU tersebut tidak hanya memperkokoh konsep wawasan nusantara, bagi perikanan perangkat kebijakan ini menguntungan karena secara prinsip kapal ikan asing tidak dibenarkan beroperasi di dalam lingkungan maritim Indonesia.
Hak pemeliharaan dan penangkapan ikan di atur dalam UUPA (pasal 47 ayat 2). Walaupun sejarah penyusunannya tidak diwarnai debat antara konsep “kepemilikan bersama” dan “kepemilikan tunggal” sebagaimana di Jepang yang memperkuat konsep hak atas sumberdaya ikan dalam perundangan perikanannya, konsepsi ini menurut Saad  memberikan ruang bagi pengakuan “kepemilikan tunggal”. Sayangnya, peraturan pemerintah yang dimaksud dalam UUPA belum atau tidak ditetapkan sampai saat ini dan juga tidak menjadi acuan lahirnya UU No. 9/1985 tentang perikanan ataupun UU Perikanan No. 31/2004.
Sejak ekonomi terpimpin dicanangkan di tahun 1959, bersama minyak bumi dan hasil hutan, perikanan menjadi harapan pengerak ekonomi nasional seperti tertuang dalam Perencanaan Pembangunan Delapan Tahunan yang disusun Dewan Perantjang Nasional (Depernas, sekarang Bappenas) di tahun 1961. Target pendapatan dari ekstraksi sumberdaya perikanan menurut Pauker mencapai US$ 500 juta, namun karena ekspektasi yang sangat berlebihan, target tersebut akhirnya direvisi menjadi US$ 12,5 juta dalam sidang kabinet.
Data yang dilaporkan Krisnandhi dapat menjadi acuan perikanan era ini. Setelah mengimpor ikan pada era awal kemerdekaan, produksi perikanan terus meningkat dari 320 ribu ton pada tahun 1940 menjadi 324 ribu ton pada tahun 1951, dan kemudian menjadi 661 ribu ton pada tahun 1965. Pertumbuhan produksi tertinggi 7,4% per tahun dicapai pada periode 1959-1965, namun produktivitas per kapal menurun dari 4 ton di tahun 1951 menjadi 2,8 ton pada tahun 1965. Produktivitas nelayan juga turun dari 1 ton menjadi 0,7 ton dalam periode yang sama. Basis perikanan pada era ini sepenuhnya di daerah pantai dan hanya sedikit industri perikanan modern yang berkembang.

Perikanan Indonesia pada Orde Baru: Terabaikan dan Dualisme Ekonomi Perikanan
Hill dalam studinya tentang ekonomi Indonesia sejak 1966 mencatat berbagai keberhasilan orde baru seperti kemampuan memanfaatkan “durian runtuh” harga minyak yang tinggi, pertumbuhan ekonomi yang berlanjut, perbaikan pendidikan, kesehatan dan gizi, selain beberapa catatan tantangan bagi masa depan. Wie memberikan catatan lain diantara keberhasilan tersebut seperti meluasnya disparitas ekonomi antara yang kaya dan miskin, desa dan kota, bagian barat dan timur Indonesia, dan meningkatnya kroni-konglomerat. Pengelolaan sumberdaya alam yang buruk mendapat sorotan Hill khususnya pengelolaan hutan.
Bagaimana perikanan di era ini? Produksi perikanan meningkat dari 721 ribu ton pada tahun 1966 menjadi 1,923 ribu ton pada 1986. Produksi ikan meningkat menjadi 3.724 ribu ton tahun 1998. Setelah mengalami pertumbuhan negatif dalam periode peralihan (1966-1967), laju pertumbuhan produksi perikanan meningkat dari 3,5% (1968-1973) menjadi 5,3% per tahun (1974-1978). Periode berikutnya pertumbuhan produksi perikanan cenderung menurun (Tabel 2). Produktivitas perikanan dalam era ini walaupun tumbuh dengan laju yang berfluktuasi (khususnya kapal), secara nomimal meningkat dari rata-rata 4,3 ton/kapal periode 1974-1978 menjadi 8,4 ton per kapal periode 1994-1998.
Motorisasi perikanan merupakan salah satu penyebab peningkatan produksi sektor ini. Tahun 1966 motorisasi hanya meliputi 1.4% dari total armada perikanan sebanyak 239.900 unit, menjadi 5,8% pada tahun 1975, dan mencapai 16% dari total armada pada tahun 1980. Pada tahun 1998 armada perikanan bermotor telah mencapai 45,8% dari total sebanyak 412.702 unit, namun data tahun ini menunjukkan hanya 21% berupa kapal motor (“inboard motor”), dan bagian terbesar adalah perahu motor tempel dan perahu tanpa motor. Dengan demikian, basis perikanan masih dominan di wilayah pantai.
Konflik antara perikanan skala besar dan skala kecil mewarnai sejarah perikanan laut orde baru sebagai akibat dualisme struktur perikanan. Dualisme perikanan ditunjukkan oleh Bailey pada dua kasus penting yaitu 1) introduksi trawl dan purse seine dan 2) pengembangan budidaya udang. Kasus trawl menguatkan tesis Hardin tentang tragedi sumberdaya kepemilikan bersama. Ketika nelayan skala kecil dengan produktivitas rendah (1,4-6,7 ton/unit alat) semakin tersingkirkan oleh nelayan skala besar (trawl dan purse seine) dengan produktivitas masing-masing mencapai 70,4 ton/unit dan 38 ton/unit di tahun 1980, respon nelayan skala kecil adalah melawan dengan berbagai cara termasuk menggunakan bom molotov. Kondisi ini yang mendorong pemerintah melarang penggunaan trawl secara bertahap melalui Keppres 39/1980 yang diikuti Inpress 11/1982 dan SK Menteri Pertanian No. 545/Kpts/Um/8/1982 tentang penghapusan jaring trawl di seluruh perairan Indonesia terhitung mulai 1 Januari 1983.

Perikanan Indonesia pada Pasca Reformasi : Harapan menjadi “Prime Mover”
Struktur perikanan laut di era terakhir ini juga belum banyak bergeser dimana perikanan skala kecil masih dominan yang ditunjukkan oleh 75% armada perikanan adalah perahu tanpa motor dan perahu motor tempel. Produksi perikanan dalam periode 1999-2001 tumbuh 2,5% per tahun, sedangkan armada perikanan mulai tumbuh terbatas yaitu di bawah 1% per tahun. Pertumbuhan nelayan lebih tinggi dari armada perikanan dan mendekati pertumbuhan produksi (2,1%).
Jika periode ini dibandingkan periode sebelumnya (1994-1998), produksi perikanan tumbuh lebih rendah (2,5%), demikian juga produktivitas kapal baik secara nomimal maupun laju pertumbuhan. Rata-rata produktivitas perikanan periode 1994-1998 mencapai 8,4 ton/kapal dan 1.7 ton/nelayan turun menjadi 8,3 ton/kapal dan 1,5 ton/nelayan periode tahun 1999-2001. Laju pertumbuhan produktivitas kapal mencapai 3,0% periode 1994-1998, turun menjadi 1,6% periode 1999-2001.
Berdasarkan Nota Keuangan dan APBN tahun 2000-2005, Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) perikanan meningkat sangat pesat dari Rp 52 miliar pada tahun 2000 menjadi Rp 450 miliar pada tahun 2003. Dibanding tahun sebelumnya, PNBP 2004 turun menjadi Rp 282,8 miliar (di bawah target Rp 450 miliar) dan diperkirakan target PNBP sebesar Rp 700 miliar pada tahun 2005 juga tidak tercapai karena belum optimalnya perjanjian bilateral dengan Cina, Filipina dan, Thailand. Kondisi ini menjadi satu tantangan bagi sektor perikanan dan kelautan untuk menjadi salah satu “the prime mover” atau “mainstream” ekonomi nasional.

Selasa, 07 Januari 2014

Hidup memang tentang PILIHAN
Setiap jalan yang kita ambil dalam hidup pasti sebuah pilihan.
Memilih memang tak semudah yang dibayangkan,butuh pertimbangan yang matang dan perhitungan yang pas dalam memilih.
Memilih juga adalah sebuah tanggung jawab nantinya,karna setelah memilih kita pasti akan mengorbankan salah satu pilihan.
Yakin lah dengan pilihan mu,pertanggungjawabkan juga pilihan mu.
Saya akui saya sendiri masih sulit apabila harus menentukan PILIHAN.
Terutama pilihan yang menyangkut masa depan saya nantinya.
Saya pernah merasakan hal tersebut,yaitu memilih tanpa memperhitungkan sebab akibatnya kedepan.
Akibatnya sekarang penyesalan itu semakin besar.
Pilihan yang pernah saya ambil malah justru mengorbankan kedua opsi pilihan yang seharusnya bisa menjadi hal yang baik kedepannya nanti.
Penyesalan tentang hal tersebut tentu ada,buktinya saya sendiri merasakan penyesalan yang teramat dalam.
CINTA & PENDIDIKAN adalah pilihan yang besar dalam hidup saya.
Saya harus mengorbankan pendidikan yang seharusnya menjadi tempat terbaik bagi saya untuk menuntut ilmu,malah saya lebih memilih cinta,yaitu tetap melanjutkan pendidikan ditempat yang dekat.

Sabtu, 14 September 2013

DAFTAR TEMPAT WISATA ALAM,RELIGI,DAN BUDUTA PROVINSI RIAU


Wisata Alam yang berada di propinsi Riau pulau Sumatera

Provinsi Riau memiliki bermacam-macam pariwisata alam seperti Air Terjun diantaranya yaitu :

  1. Air Terjun 86 - Indragiri Hilir
  2. Air Terjun Aek Martua - Rokan Hulu
  3. Air Terjun Alahan - Kampar
  4. Air Terjun Delapan Tingkat (Lembah Gemuruh)
  5. Air Terjun Granit - Indragiri Hulu
  6. Air Terjun Guruh Gemurai - Kuantan Singingi
  7. Air Terjun Merangin - Kampar
  8. Air Terjun Pangkalan Kapas - Kampar
  9. Air Terjun Tembulun Rusa - Indragiri Hilir
  10. Air Terjun Tujuh Tingkat Batang Koban - Kuantan Singingi
Pulau Jemur yang berada di propinsi Riau pulau Sumatera

Terletak kurang lebih sekitar 45 mil dari pusat ibukota Kabupaten Rokan Hilir, Bagansiapiapi, dan berjarak sekitar 45 mil dari negara tetangga yakni negara Malaysia, selain itu propinsi Sumatera Utara merupakan propinsi yang terdekat dengan Pulau Jemur. Pulau Jemur sebenarnya merupakan sebuah gugusan pulau-pulau yang terdiri dari beberapa buah pulau antara lain yaitu, pulau Tekong Emas, pulau Tekong Simbang, pulau Labuhan Bilik serta di kelilingi pulau-pulau kecil lainnya. Pulau-pulau yang terdapat di pulau Jemur ini memiliki bentuk lingkaran sehingga di bagian tengahnya menjadi sebuah laut yang tenang. Pada saat musim angin barat laut tiba, gelombang laut yang ada di Selat Malaka sangat besar, dan biasanya para nelayan-nelayan setempat yang sedang melaut berlindung di bagian tengah dari pulau Jemur, karena air laut pada kawasan tersebut relatif tenang. Setelah gelombang laut sudah mulai mengecil atau badai berkurang barulah para nelayan kembali keluar untuk memulai lagi aktivitas untuk menangkap ikan. Pulau Jemur ini mempunyai pemandangan dan panorama alam yang sangat indah, selain itu Pulau Jemur ini juga amat kaya dengan hasil lautnya, dan pulau ini sering dimanfaatkan oleh para penyu untuk menyimpan telur-telurnya di bawah lapisan pasir-pasir yang berada di pantai. Selain itu di pulau Jemur juga terdapat beberapa potensi pariwisata yang lain diantaranya adalah Goa Jepang, Mercusuar, sisa-sisa pertahanan Jepang, batu Panglima Layar, taman laut dan pantai berpasir kuning emas.

Taman Nasional Bukit Tiga Puluh yang berada di propinsi Riau pulau Sumatera

Taman Nasional Bukit Tiga Puluh (TNBT) memiliki luas sekitar 144.223 Hektar, dengan ekosistem hutan hujan tropika daerah dataran rendah (lowland tropical rain forest), kawasan daerah ini merupakan peralihan di antara hutan rawa dan hutan pegunungan dengan ekosistem yang unik dan berbeda jika dibandingkan dengan kawasan taman-taman nasional lainnya yang ada di Indonesia. Bukit Tiga Puluh ini merupakan sebuah hamparan perbukitan yang terpisah dari rangkaian pegunungan Bukit Barisan dan berbatasan dengan propinsi Jambi, daerah ini merupakan sebuah daerah tangkapan air (catchment area) sehingga membentuk beberapa sungai-sungai kecil yang juga merupakan hulu dari sungai-sungai besar di daerah sekitarnya. Jenis-jenis fauna yang terdapat dan bisa dijumpai di Taman Nasional Bukit Tiga Puluh antara lain yaitu :

  1. Harimau Sumatera
  2. Beruang Madu
  3. Tapir
  4. Siamang
  5. Kancil
  6. Babi Hutan
  7. Burung Rangkong
  8. Kuaw, dan berbagai macam jenis satwa lainnya.
Sedangkan beberapa jenis flora yang langka dan diduga endemik di kawasan tersebut adalah Cendawan Muka Rimau (Rafflesia haseltii). Selain tempat ini juga merupakan habitat dari berbagai macam jenis flora dan fauna langka yang dilindungi, kawasan TNBT juga sebagai tempat hidup dan bermukim beberapa komunitas masyarakat dari suku asli seperti Talang Mamak, Anak Rimba, dan Melayu Tua.


Pantai Rupat Utara Tanjung Medang yang berada di propinsi Riau pulau Sumatera

Pantai Rupat Utara Tanjung Medang Berlokasi di Kecamatan Rupat, Pulau Rupat. Daerah Kawasan Pantai Pasir Panjang terdiri dari beberapa bagian yaitu Tanjung Medang, Teluk Rhu dan Tanjung Punak di Kecamatan Rupat yang berhadapan langsung dengan Kota Dumai, tempat ini dapat dengan mudah dicapai karena dari Dumai tersedia beberapa transportasi laut untuk penumpang umum. Pasir yang terdapat di pantai ini memiliki warna yang putih dan bersih dan memungkinkan para pengunjung untuk mandi, berjemur, berolahraga air, rekreasi keluarga dan bersantai untuk menikmati kejernihan air lautnya dengan ombak yang sedang.

Air Terjun Aek Martua yang berada di propinsi Riau pulau Sumatera

Air Terjun Aek Martua terletak di kecamatan Bangun Purba, Kabupaten Rokan Hulu merupakan sebuah air terjun yang bertingkat-tingkat, sehingga sering juga disebut air terjun tangga seribu, tempat ini dapat ditempuh melalui jalan darat, kurang lebihnya kira-kira dua per tiga dari bawah terdapat kuburan pertapa Cipogas, dengan air terjun yang memiliki bentuk bertingkat-tingkat, sungguh mengagumkan panorama alamnya untuk dinikmati.

Objek Wisata Bono yang berada di propinsi Riau pulau Sumatera

Objek Wisata Bono terletak di Desa Teluk Meranti, di sepanjang Sungai Kampar dan Sungai Rokan. Bono adalah sebuah fenomena alam yang datang sebelum air laut pasang. Di mana air laut mengalir masuk dan bertemu dengan air yang berasal dari sungai Kampar sehingga terjadi sebuah gelombang dengan kecepatan yang lumayan tinggi, serta menghasilkan sebuah suara seperti suara guntur dan suara angin yang kencang. Pada saat musim pasang tinggi, gelombang yang ada di sungai Kampar ini dapat mencapai 4-6 meter, yang membentang dari tepi ke tepi dan menutupi keseluruhan badan dari sungai. Uniknya peristiwa ini terjadi setiap hari, siang ataupun di malam hari. Hal yang dapat menarik turis menuju objek wisata ini adalah kegiatan berenang, memancing, naik sampan, dan masih banyak kegiatan lainnya.

Wisata Bahari di Kabupaten Siak yang berada di propinsi Riau pulau Sumatera

Wisata Bahari di Kabupaten Siak adalah Danau Pulau Besar yang terletak di Desa Zamrud, Kecamatan Siak Sri Indrapura. Danau ini memiliki luas kurang lebih sekitar 28.000 Hektar, dan Danau Naga di Sungai Apit. Danau Bawah dan Danau Pulau Besar ini terletak dekat dengan lapangan minyak Zamrud, Kecamatan Siak. Tempat ini memiliki panoramaalam yang indah dan mengagumkan juga sangat menarik. Di sekitar danau masih bisa ditemukan hutan yang alami dan masih asli. Kondisi dari danau ataupun hutan yang ada di sekitar danau memiliki status Suaka Marga Satwa yang luasnya kurang lebih mencapai 2.500 hektar, dan masih terdapat berbagai macam aneka ragam jenis satwa dan tumbuhan yang langka. Sumber daya hayati yang ada di danau ini seperti pinang merah, ikan arwana dan ikan Balido yang juga termasuk kategori dilindungi. Keanekaragaman jenis satwa liar yang ada di Suaka Marga Satwa danau Pulau Besar dan danau Bawah merupakan kekayaan tersendiri dan sebagai sebuah objek wisata tirta di Daratan Riau.

Wisata Religi, Budaya dan Sejarah yang berada di propinsi Riau pulau Sumatera

Propinsi Riau juga memiliki berbagai macam jenis wisata religi, budaya maupun sejarah. Beberapa wisata religi, budaya, dan sejarah yang terkenal dari daerah Riau di antaranya adalah :

Wisata Religi

Haul Tuan Guru Sapat

Keluarga dari Keturanan Syekh Abdurrahman Siddiq beserta Masyarakat Kampung Sapat, Kec. Kuala Indragiri Hilir, Kab. Indragiri Hilir mengadakan Haul Tuan Guru Sapat. Acara yang di gelar pada satu tahun sekali ini sebagai bentuk pengghargaan kepada Sang Guru yang telah menyebarkan syariat islam di Bumi Indragiri.

Makam Syekh Abdurrahman Siddiq

Syekh Abdurrahman Siddiq merupakan salah seorang Ulama besar yang pernah menjadi Mufti di Kerajaan Indragiri terdahulu, karangan-karangan beliau yang sudah terkenal telah menjadikan beliau sebagai seorang Ulama yang sangat cerdas. Dari kebesaran nama beliau lah yang menjadikan orang tidak pernah hentinya untuk berziarah dan mereka datang dari berbagi penjuru daerah. Ketika datang ke makam Syekh Abdurrahman Siddiq terletak di Kampung Sapat, Kec. Kuala Indragiri Kab. Indragiri Hilir adalah tempat untuk memanjatkan do'a dan tahlil sebagi bentuk penghargaan kepada Syekh Abdurrahman Siddiq dalam menyiarkan Syariat Islam.

Makam Syekh Burhanuddin Kampar

Makam Syech Burhanuddin terletak di Desa Kuntu, Kecamatan Kampar Kiri, Kabupaten Kampar Riau, Sekarang telah dijadikan sebagai salah satu obyek wisata religius oleh Pemerintah Kabupaten Kampar dan makam itu juga ramai dikunjungi para peziarah dalam negeri ataupun luar negeri.

Wisata Budaya

Bakar Tongkang


Upacara Bakar Tongkang merupakan sebuah upacara tradisional dari masyarakat china yang berada di Ibu Kota kabupaten Rokan Hilir yaitu Bagansiapiapi.

Upacara ini juga disebut Go Ge Cap Lak yang berate 15 dan 16 bulan 5 penanggalan imlek, Namun Go Ge Cap Lak lebih terkenal dengan nama sebutan Upcara Bakar Tongkang. Even ini merupakan sebuah upacara pemujaan terhadap Dewa Kie Ong Ya dan Tai Sun Ong Ya yang dianggap sudah berjasa menjaga keselamatan rombongan dari orang-orang china yang menemukan Bagansiapiapi.

Menurut cerita dari rakyat setempat, rombongan perantau dari China ini berlayar untuk mencari daerah baru dengan jumplah beberapa perahu, yang akhirnya menemukan Bagansiapiapi. Ditempat inilah kemudian mereka bersepakat untuk bermukim. Sebagai tanda terimakasih kepada Dewa Kie Ong Ya dan Tai Sun Ong Ya, masyarakat China yang berada di Bagansiapiapi membakar replica kapal setiap tahunnya. Dan inilah yang kemudian dikenal dengan nama Upacara Bakar Tongkang.

Wisata Bersejarah

Masjid Raya Pekanbaru


Mesjid Raya Senapelan atau yang sekarang dikenal dengan Mesjid Raya Pekanbaru ini termasuk dalam salah satu cagar budaya yang memiliki nilai sejarah yang tinggi di Riau. Selain bersejarah tempat ini juga merupakan salah satu tempata wisata religius untuk umat agama Islam.

Sejarah dari Masjid Raya Pekanbaru
Mesjid ini pertama kali dibangun oleh Sultan Abdul Jalil Muazzam Syah pada tahun (1766-1780 M) yang dikenal sebagai marhum bukit, Raja Keempat dari Kerajaan Siak Sri Indrapura pada sekitar tahun 1762 M. Kemudian pembangunannya diteruskan kembali oleh Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzam Syah, Raja Kelima. Pada sekitar tahun 1775 M Marhum bukit lalu memindahkan ibukota kerajaan dari mempura ke senapelan. Beliau wafat pada tahun 1780. Senapelan adalah lokasi masjid raya. Hal ini merupakan salah satu cikal bakal pertama kalinya berdiri kota Pekanbaru semenjak berdirinya Masjid Raya ini.

Daftar Lengkap nama objek Tempat Wisata yang berada di propinsi riau adalah sebagai berikut :
  1. Alam Mayang
  2. Mal SKA
  3. Danau Limbungan
  4. Bandar Serai
  5. Kubang Zoo
  6. Pasar Bawah
  7. Stanum
  8. Masjid Jami' Air Tiris
  9. Pacu Jalur
  10. Air Terjun Guruh Gemurai
  11. Air Terjun Batangkuban
  12. Candi Muara Takus
  13. Istana Siak
  14. Taman Nasional Tesso Nilo
  15. Taman Nasional Bukit Tigapuluh
  16. Cagar Biosfer Giam Siak Kecil Bukit batu
  17. Istana Kesultanan Pelalawan
  18. Kepulauan Arwah
  19. Tugu Khatulistiwa Pangkalan Kuras
  20. Istana Kesultanan Indragiri
  21. Bakar Tongkang
  22. Bono Sungai Kampar
  23. Air Terjun Aek Marua
  24. Benteng Tujuh Lapis
  25. Pantai Selatbaru Bengkalis
  26. Pantai Rupat Utara
  27. Masjid An-Nur Pekanbaru
Untuk Daftar tempat Wisata di kepulauan Riau sebagai berikut :
  1. Pulau Penyengat
  2. Pantai Penat
  3. Pulau Bintan
  4. Gunung Ranai
  5. Sungai Sebong
  6. Pantai Trikora
  7. Gunung Bintan
  8. Air Terjun Temurun
Demikian adalah Daftar nama-nama objek tempat wisata di Riau yang saya sertai dengan sedikit informasi yang ada dari tempat wisata tersebut dan untuk lebih lengkapnya dari daftar tempat wisata di sumatera dapat anda lihat di daftar wisata Pulau Sumatera.

Daftar 10 Terbaik Tempat Wisata di Indonesia

Indonesia adalah negara besar yang terletak di Asia tenggara, yang memiliki penduduk yang banyak dan luas lahan, dengan keanekaragaman budaya dan daerah geologis yang signifikan. Dengan jumlah 18.110 pulau, dan 6.000 diantaranya berpenghuni, maka pantaslah jika Indonesia disebut sebagai  negara kepulauan terbesar di dunia. Populasi sekitar 240 juta orang (data belum di update)  berasal dari 300 kelompok etnis yang berbicara lebih dari 250 bahasa yang berbeda. Bali biasanya menjadi tujuan yang paling akrab bagi pengunjung asing, meskipun ada banyak tempat wisata di Indonesia yang top lainnya.

Berikut 10 Daftar tempat wisata di Indonesia yang terpopuler :


1.Bali

Salah satu Pura di Bali
Bali adalah salah satu pulau tempat wisata di Indonesia yang paling populer di dunia dan salah satu yang konsisten memenangkan penghargaan sebagai pulau wisata yang baik. Bali memiliki Variasi wisata, garis pantai yang berbatu, pantai tropis, sawah yang subur dan bukit vulkanik, semuanya memberikan latar belakang yang indah berwarna-warni, dan yang sangat spiritual adalah budaya Hindunya yang unik. Kombinasi antara budaya dan  keramahan penduduknya, membuat Bali menjadi tujuan wisata paling favorit yang ada di Indonesia.

2. Raja Ampat

Kepulauan Raja Ampat yang Mempesona
Berikut ini adalah tempat wisata di Indonesia yang paling populer sepanjang tahun 2011, Semua orang berbicara tentang Raja Ampat, Papua. Raja Ampat dipuji untuk keindahan alamnya yang sangat spektakuler. Wayag, gugusan batu vulkanik yang mencuat dari lautan, diyakini lebih indah dari Halong Bay di Vietnam. Jika Anda terpesona dengan keindahan laut Raja Ampat, tunggu sampai Anda menyelam ke dalam lautan biru jernih di Raja Ampat, Terumbu karang dengan berbagai kehidupan laut yang indah, akan membuat Anda jatuh cinta terhadap Pulau ini.

3. Taman Nasional Komodo

Taman Nasional Komodo yang Termasuk 7 Keajaiban Dunia
Taman Nasional Komodo adalah sebuah taman nasional yang terletak di dalam Kepulauan Sunda Kecil yang meliputi tiga pulau besar Komodo, Padar dan Rincah, dan 26 pulau lainnya yang lebih kecil. Pulau ini dinamakan Komodo,karena di pulau ini terdapat  reptil  terbesar  yang hidup di dunia yang bisa mencapai 3 meter atau lebih panjang dan berat lebih dari 70 kg. Meskipun komodo kebanyakan makan bangkai hewan mati, akan tetapi Komodo adalah predator tangguh dan juga akan berburu mangsa termasuk burung, dan mamalia. Serangan terhadap manusia sangat jarang terjadi.

4. Borobudur

Stupa di Candi Borobudur
Terletak 40 km (25 mil) barat laut dari Yogyakarta di Jawa, Borobudur adalah salah satu kuil Buddha paling terkenal di dunia. Borobudur dibangun selama sekitar 75 tahun di abad ke-8 dan ke-9 oleh kerajaan Sailendra, dan dibuat dari sekitar 2 juta blok batu. Borobudur kemudian  ditinggalkan pada abad ke-14 karena alasan yang masih tetap misteri dan selama berabad-abad berbaring tersembunyi di hutan di bawah lapisan abu vulkanik. Dan sekarang tempat ini telah menjadi salah satu tempat wisata di Indonesia yang sangat populer dikunjungi oleh wisatawan asing ataupun lokal.

5. Danau Toba

Pemandangan Danau Toba Yang Indah
Danau Toba menawarkan banyak objek wisata yang menarik, seperti wisata alam, spiritual, sejarah, arsitektur dan kuliner. Suasana sejuk dan menyegarkan berhasil mengajak para wisatawan untuk datang ke tempat wisata di Indonesia ini. Tidak ada kata yang bisa menggambarkan keindahan pesona danau terbesar kedua di dunia ini. Danau Toba merupakan kawasan wisata super besar yang ada di dunia. Sejarah mencatat, Danau Toba di Sumatera Utara dulunya merupakan gunung berapi yang besar. Danau Toba diperkirakan bahkan sebagai situs taman geo di Indonesia. Pulau Samosir sendiri ada sekitar 35 situs , salah satunya adalah batu berusia 300 tahun di kaki Gunung Pusuk Buhi.

6. Tana Toraja

Rumah Adat Tana Toraja
Toraja di Sulawesi Selatan. Toraja terkenal dengan ragam tradisi budaya yang selalu menarik untuk dikunjungi. Salah satu tradisi yang paling populer oleh para wisatawan adalah pemakaman Toraja. Para wisatawan asing  bersedia untuk datang dari jauh, hanya untuk mengunjungi pemakaman Toraja. Tradisi pemakaman Toraja dalam sangat khas dan hanya bisa dimiliki oleh keluarga bangsawan. Pemakaman berlangsung selama berhari-hari, dan sebagai puncak acara akan diadakan pembantaian kerbau. Yang Menarik bagi wisatawan adalah tata cara pemakaman. Sihir! Prosesi ini dipimpin paranormal sihir Toraja. Tubuh "berjalan" ke atas bukit kemudian dimakamkan di makam batu berukir. Tempat wisata di Indonesia ini adalah salah satu tujuan wisata paling terkenal di Dunia.

7. Gunung Bromo

Keindahan Gunung Bromo
Gunung Bromo merupakan gunung berapi aktif dan bagian dari Tengger massif, di Jawa Timur. Bromo memiliki ketinggian 2.329 meter (7.641 kaki) walaupun itu bukan puncak tertinggi massif, tetapi ini adalah yang paling terkenal dari Bromo. Gunung Bromo adalah salah satu tempat wisata di Indonesia yang paling banyak dikunjungi di Indonesia dan Jawa. Bagian atas gunung berapi akan terus tertiup angin dan dalam kawah akan terus mengeluarkan asap putih. Tempat  ini dikelilingi oleh Laut Pasir vulkanik halus.

8. Pulau Karimun Jawa

Pulau Karimunjawa
Karimunjawa adalah tempat wisata di Indonesia yang merupakan tempat favorit para backpacker muda yang memulai hobinya. Jika Anda ingin sebuah petualangan di laut, hidup di pulau yang tenang, menikmati alam bebas untuk pertama kalinya, maka Karimunjawa adalah tujuan tepat untuk itu semua. Penyelam profesional juga telah mengakui keindahan dunia bawah laut Karimun jawa. Di sini, Anda akan terpesona oleh kehadiran beberapa hewan langka, seperti penyu sisik (Eretmochelys imbricata) dan penyu hijau (Chelonia mydas) yang berenang bebas. Karimunjawa memiliki beberapa tempat menyelam yang luas, seperti Pulau Menjangan Kecil, Pulau Menjangan Besar, Pulau Genting dan Pulau Kembar.

9. Bunaken

Wisata Bawah Laut Bunaken
Terletak di utara pulau Sulawesi, Bunaken merupakan salah satu tempat menyelam yang paling terkenal di Indonesia dan juga daerah snorkeling yang paling banyak dikunjungi wisatawan. Pulau ini merupakan bagian dari Taman Laut Bunaken di mana Anda dapat melihat lebih dari 70% dari semua spesies ikan yang hidup di samudra Pasifik Barat. Jika Anda ingin berkunjung ke salah satu tempat wisata di Indonesia ini, maka Waktu terbaik untuk menyelam di Bunaken adalah antara bulan April dan November.

10. Kepulauan Gili

Aktivitas Turis di Gili Trawangan
Tempat wisata di Indonesia ini adalah Tujuan wisata paling populer di Lombok, Kepulauan Gili adalah kepulauan tiga pulau kecil: Gili Trawangan, Gili Meno dan Gili Air. Pulau-pulau yang sangat tenang dan damai, dengan banyak kafe di pinggir pantainya dan tidak ada mobil atau sepeda motor yang akan mengganggu ketenangan tempat ini. Perhatikan bahwa nama "Kepulauan Gili" agak berlebihan sebagai gili, yang hanya berarti "pulau kecil" di Sasak ada banyak pulau-pulau lain di sekitar pantai Lombok dengan Gili di nama mereka.

Terima Kasih atas kunjungan Anda ke Blog ini, dan jangan lupa berkunjung kembali untuk mendapatkan info-info tempat wisata lainnya yang ada di Dunia. Jangan lewatkan juga artikel lainnya yang berjudul, Tempat Wisata di Yunani.

Kamis, 15 Maret 2012

Tips Mengatasi Galau

Tips Mengatasi Galau - Tips Anti Galau | Cara Mengobati Galau | Cara Menghindari Galau - Masih pada bahasan seputar Tips Mengobati Anti Galau, dalam bahasan kali ini akan diberikan seputar tips anti galau, atau cara menghindari/mengobati galau itu sendiri melalui berbagai macam cara sederhana mengatasi galau yang mudah mudahan bisa membantu sobat sekalian.

ANTI GALAU

Berikut beberapa Tips Mengatasi Galau | Anti Galau | Cara Mengobati Galau | Cara Menghindari Galau tersebut:

1. Mendekatkan diri kepada yang Maha kuasa, banyak berdoa agar kita terlepas dari kegalauan tersebut. Memohon diberikan jalan dan petunjuk terbaik terhadap penyelesaian permasalahan yang sedang dihadapi.

2. Segera menyelesaikan permasalahan atau penyebab galau itu sendiri, harus diingat bahwa menyimpan masalah dan tidak segera menyelesaikannya bagai menyimpan bom waktu yang sewaktu-waktu pasti akan meledak.

3. Lepaskan dan sampaikan hasrat atau uneg-uneg penyebab galau tersebut, jika sobat memendam rasa terhadap seseorang akan lebih baik disampaikan kepada orang tersebut. Walaupun hasilnya terkadang tidak seperti yang diharapkan namun akan lebih meringankan beban perasaan sobat.

4. Cobalah memanajemen waktu sobat, jadwalkan waktu khusus dalam sepekan untuk refreshing atau berolahraga. Lakukan kegiatan kegiatan atau rutinitas yang tidak biasa, akan membabantu fikiran sobat menjadi lebih fresh.

5. Mendengarkan lagu-lagu atau musik yang gembira akan menghantarkan sobat menjadi lebih segar.

6. Mencari orang yang dapat dipercaya untuk bercerita atau curhat terhadap permasalahan yang sobat hadapi, walaupun tidak didapat solusi yang terbaik tapi paling tidak ada referensi masukan untuk memecahkan masalah tersebut.

7. Selalu berfikir positif (Positif Thinking) dalam menjalani kehidupan, buang prasangka buruk kepada sobat dan rekan.

8. Pergi kepantai, kegunung dan teriak sekeras-kerasnya sampai merasa fresh dan segar. Buang semua kegalauan disana.


Jangan Gila Karna Galau Ya Sobat .....!